Make a blog

beritabgr6

1 year ago

HUT ke-48, LIPI Beri Inventor Award pada 7 Peneliti Berjasa

Di hari ulang tahunnya ke-48, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberikan apresiasi bagi tujuh orang penelitinya yang berjasa menghasilkan invensi atau penemuan baru melalui pemberian Inventor Award, Senin (24/08/15).

Dengan pemberian Inventor Award ini, Kepala LIPI Prof.Dr Iskandar Zulkarnaen berharap banyak hasil penemuan dari para peneliti visa bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat umum.

“Pemberian Inventor Award sebagai bukti nyata hasil-hasil penelitian LIPI yang telah dipatenkan bisa dimanfaatkan oleh industri dan masyarakat umum," ucap Iskandar Zulkarnaen kepada heibogor.com.

Ia menambahkan, tujuh peraih Inventor Award ini telah menghasilkan karya riset secara perorangan maupun kelompok.

“Tujuh hasil penelitian itu adalah biskuit untuk penyandang autis, komposit dari serat mikrovkenaf dengan polipropilena atau poli asam laktat, proses pembuatan sel dan kluster baterai padat lithium berbasis keramik,” ungkapnya.

Ada juga, sambung Dr. Iskandar, bio toilet berpengaduk manual, metoda dan alat untuk meningkatkan kadar methana dalam biogas, sari tempe manue, dan proses pembuatannya, serta antena radar penetrasi tanah berbentuk dasi kupu-kupu.

Ia melanjutkan, tujuh karya riset itu dinilai memenuhi syarat inovasi dan sangat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat luas.

“Salah satu hasil yang menonjol adalah proses pembuatan sel dan kluster baterai padat lithium berbasis keramik, di mana baterai lithium tersebut bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti mobil listrik dan bio toilet berpengaduk manual di mana kloset tersebut menampung tinja manusia yang diproses secara alami oleh mikroba lalu dapat menghasilkan pupuk kompos," tuturnya.

Sumber: soeharto

1 year ago

Bogor dan Perjalanan Karier Militer Soeharto

Apa hubungan Presiden Republik Indonesia yang ke-2 Soeharto dengan Kota Bogor? Kalau Anda menyebut Istana Bogor sebagai ikatan emosi Sang Penguasa Orde Baru itu sudah barang tentu ada benarnya. Tapi jauh sebelum The Smiling General itu menjadi resmi menjadi Presiden, dengan ‘menggulingkan’ sang proklamator Soekarno, ia sudah memiliki pertalian dengan Kota Hujan. Sebuah ikatan yang bisa jadi justru menjadi variabel penting dari perjalanan Soeharto menjadi orang nomor satu di Indonesia selama 32 tahun lamanya sebelum dilengserkan mahasiswa pada bulan Mei 1998.

Pendudukan Jepang di Indonesia mungkin menjadi tolak ukur yang penting dari perjalanan karier Soeharto di bidang militer. Walaupun ia memulai karir kemiliteran di bawah rezim kolonial Belanda dengan menjadi serdadu KNIL (Koninklijke Nederlandsch-Indisch Leger) di akhir 1942, Jepang lah yang membentuk kemiliteran Soeharto yang sesungguhnya.

Saat Jepang menduduki Indonesia, Soeharto menjadi bagian dari perwira Peta (Pembela Tanah Air). bentukan Jepang yang dilatih untuk menghadapi serangan Sekutu yang sudah diperkirakan oleh Jepang jauh hari akan kembali memasuki nusantara.

Sebelum menjadi tentara Peta, Soeharto sempat masuk dalam korps kepolisian Jepang dan menjalani pelatihan yang penuh dengan disiplin tinggi, otoriter, dan paternalis di Jogjakarta. Korps kepolisian Jepang yang saat itu sangat ditakuti rakyat dan bisa jadi pelatihan keras inilah yang membawa banyak pengaruh pada kehidupan politik Soeharto di tahun-tahun setelahnya, terutama dari cara represif yang didapatnya dari pendidikan ala Jepang tersebut.

Selama berdinas di Yogya, Soeharto ingat pangkatnya adalah keibuho (inspektur polisi). Keibuho merupakan jenjang kepangkatan keempat dalam tangga promosi setelah anggota polisi (junsa), polisi senior (junsacho), lalu sersan polisi (junsabucho). Di Jepang saja, pangkat keempat hanya bisa disandang perwira polisi yang berpengalaman atau pemuda lulusan universitas–dan selalu Universitas Kekaisaran Tokyo (kini Universitas Tokyo).

Berlabuh di Bogor

Soeharto pun akhirnya mendaftarkan diri sebagai prajurit Peta dan dinyatakan lolos. Kelulusannya itulah yang kemudian membawanya ke Kota Hujan. Soeharto menjalani pemusatan pelatihan komandan peleton (shodancho) di Bogor. Karena kecerdasannya, Soeharto termasuk sedikit shodancho yang dipercayai militer Jepang. Dari 10 Mei sampai 10 Agustus 1944, Soeharto “ditarik kembali” ke Bogor untuk menjalani pelatihan sebagai komandan kompi (chudancho), yang akan membawahi tiga peleton. Soeharto pun tercatat sebagai komandan yang selama lima bulan (dari Maret sampai Agustus 1945) melatih sisa-sisa prajurit batalyon Peta Blitar, yang sudah tak dipersenjatai dan ditepikan di kaki Gunung Wilis menyusul aksi “pemberontakan” pada Februari 1945.

Maka, kalau dalam berita Watashi no rirekisho (Sejarah Pribadi Saya) yang dimuat koran Nihon Keizai Shimbun pada 6 Januari 1998, Soeharto memoles citranya sebagai orang yang diamati Kenpeitai (polisi militer Jepang) lantaran bersikap kritis terhadap Jepang, tak sedikit mantan perwira militer Jepang yang menyangkalnya. Marimoto Takeshi, penulis buku Jawa boei giyugun-shi (Sejarah Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa) yang juga bekas tentara Jepang, mengatakan, “Semua orang, termasuk saya sendiri, diawasi oleh Kenpei. Jadi dia bukan satu-satunya.” Soeharto memang tak ingin kita mengenalnya bukan dari siapa dia melainkan dari bagaimana dia ingin kita mengenalnya(majalah historia online – Barak-Barak Soeharto).

Lain dari itu, Bogor menjadi dasar karier kemiliteran Soeharto, namun pada tahun berikutnya, Bogor memerankan peranan penting bukan saja dari pembentukan kariernya di kesatuan militer, namun juga dalam berbagai peristiwa bersejarah dan keputusan besar yang pernah diambil Presiden RI yang disegani itu.

Sumber: istana bogor